Category: Komunikasi dan Edukasi

Bukan Hanya Menjadi Penulis

Bukan Hanya Menjadi Penulis

Saya bukan seorang penulis yang baik, bahkan sempat beberapa waktu hilang minat menulis saya karena kesibukan kehidupan hedonisme yang begitu mempesona[1]. Tapi saya masih saja tetap yakin, bahwa menulis adalah sebuah kegiatan yang sangat penting untuk tetap dilestarikan, khususnya oleh masyarakat Indonesia. Kenapa? Menulis adalah menorehkan ide pikiran yang no one knows menjadi sesuatu yang bisa diambil pelajaran oleh segenap umat manusia.

Masih ingat dengan kata kata bijak “Buku adalah Jendela Dunia”? Sekian lama saya kira kata itu adalah teguran untuk kita yang malas membaca. Tapi saya pikir pikir lagi, jika Buku adalah jendela dunia dan semua orang hanya membaca lalu semua orang telah membaca semua buku, lantas buku apa lagi yang bisa dibaca? Itu lah pentingnya menulis, sebuah regenerasi ilmu, pengetahuan dan pengalaman. Membuat kita tau tanpa harus mengalami. Mengasah otak kita meresapi, memaknai, menciptakan imajinasi diluar batas pencapaian panca indra hingga tercetuslah suatu gagasan yang luar biasa yang mungkin bisa membawa kebaikan untuk umat manusia.

Saya berbicara bukan sebagai jurnalis, sastrawan, novelis atau profesi lain yang berhubungan dekat dengan menulis. Saya kebutulan mempelajari teknologi dan saya merasakan bahwa ilmu teknologi disini sangat sangat kurang. Mereka hanya membahas “kulitnya” saja. Keresahan itu lah yang menyadarkan saya, bahwa saya gak boleh berhenti menulis. Anggap saja tulisan jelek saya sebelum dan sesudah ini adalah latihan yang mungkin bisa menjadi bagus beberapa tahun lagi. Itu jauh lebih baik dari pada baru memulai menulis beberapa tahun lagi (masih jelek lagi!).

Menurutku bukan cuma gemar membaca saja yang harus ditanam tapi juga menciptakan apa yang dibaca dengan kualitas yang cukup untuk membuat semua orang paham. Ayo Men! Menulis bukan hanya tugas novelis! Tulisan bukan cuma yang ada di koran, majalah, novel dan sebagainya. Sebagai calon pembuat teknologi misalnya, saya harus mendokumentasikan segala yang saya buat (dokumentasi bukan cuma foto, tapi juga segala aktifitas, kesalahan, pengalaman dan sebagainya) agar nantinya berguna untuk saya sendiri agar tidak lupa, syukur syukur bisa berguna untuk orang lain.

Teori doang mah gampang! Bahkan professional dibidangnya pun terkadang menyadari bahwa melakukan dokumentasi adalah kelemahannya. Ya, itu kekurangan kita! Kita harus akui itu! Pantas kita gak maju maju, karena tidak ada regenerasi! Tidak ada yang menulis dan tidak ada yang membaca.

Akhir kata, menulis adalah berbagi. Bukankah telah dikatakan bahwa berbagi ilmu pengetahuan tidak akan mengurangi ilmunya? Setelah berbagi, bukalah hati untuk mencari lagi. Intinya adalah, IMHO, membaca dan menulis adalah sebuah integrasi yang tidak bisa dipisahkan.


[1]Kehidupan hedonisme yang begitu mempesona, kata kata yang aku dapat dari Mas Gamal Albin Said saat acara Urban Social Forum di Surabaya.


Seorang teman pernah memberi saya sebuah pesan saat saya mau menuntut ilmu di negeri yang jauh. Sebuah pesan baik yang sangat berkesan dan tak terlupakan…

“Pelajarilah Ilmu karena belajar ilmu adalah kebaikan, menuntut ilmu adalah ibadah, menghafal ilmu adalah tasbih, mendiskusikan ilmu adalah taqarrub dan mengajarkan kepada orang lain adalah shadaqah” – Mu’adz bin Jabbal RA.

Suatu keyakinan dalam diriku, jika kamu telah terbuka hatinya dan mau mulai menulis, jika kamu merasa tulisanmu belum bagus maka kamu kurang membaca. Maka bacalah, karena itu akan meningkatkan kosakata, pengalaman, gaya bahasa dan segala ilmu yang mungkin tidak terbayangkan. Bukankah itu juga perintahNya?

Adupun trigger dari tulisan ini adalah pertanyaan dari pemuda Jepang kepada saya, “Berapa kali kamu membaca buku dalam setahun?”. Hal tersebut lalu melemparkan imajinasi saya, oke saya membaca, tapi apa yang saya baca? Apakah itu bermanfaat? Dan apa yang aku dapat dari membaca itu? Apakah saya bisa berbagi dari apa yang telah saya baca? Bagaimana dengan teman temanku, apakah mereka juga membaca?

Adapun beberapa teman saya yang cukup pandai mengolah kata pada status facebooknya, sayang sekali hanya menjadi sebuah status yang semenit berikutnya berada di paling bawah beranda saya. Mas Mbak yang saya hormati, tulisan Anda sangat luar biasa. Saya ingin membacanya dikemudian hari lagi dan tidak mungkin saya membuka beranda saya untuk mencarinya. Buatlah sebuah wadah yang memang diciptakan untuk menampunya bernama Blog. Tulislah disana, jangan hanya di status.

Advertisements

Mengenal Motivation Letter, Esai untuk Promosi Diri

Motivation Letter atau biasa disebut dengan Statement of Purpose  adalah sebuah surat yang menjelaskan tentang mengapa kita ingin mengikuti sesuatu. Esai tersebut merupakan hal yang dapat dikatakan wajib hadir dalam list persyaratan mendapatkan beasiswa atau sebuah program yang memerlukan proses seleksi. Dalam membuat sebuah motivation letter yang baik, kita harus bisa membuatnya secara terstruktur, sistematis dan masif dan rapi serta dapat menuangkan isi hati kita kedalam tulisan. Memang tidak mudah membuat motivation letter yang baik karena setidaknya harus memiliki sense of writing (Pengalaman menulis) dan evaluasi tulisan di lain hari.

Sekarang kita akan mengintip sedikit bagaimana sih cara menulis Motivation Letter yang baik. Kebetulan saya pernah mencoba menulis sebuah motivation letter dan Alhamdulillah dapat diterima. Teori penulisan saya intip dari sebuah website yang sangat bagus, Wikihow. Berikut link-nya : http://www.wikihow.com/Write-a-Statement-of-Purpose. Pada link tersebut dijabarkan tentang 3 step dan beberapa sub-step yang sangat detail dan memiliki contoh setiap stepnya. Baca bahasa inggris sedikit gapapa ya :D.

Lalu saya juga akan berbagi sebuah motivation letter untuk seleksi pertukaran pelajar yang kampus saya adakan (Politeknik Elektronika Negeri Surabaya) ke National Institute of Technology, Anan College (NIT-AC) Jepang. Ya walaupun sebenernya aku heran juga kenapa bisa lolos padahal dulu masih belum bisa bahasa inggris dan hanya bermodalkan percaya diri dan evaluasi tulisan selama tiga hari lebih.

The Example of Motivation Letter


My name is Tegar Imansyah and currently study in Mechatronics Engineering (undergraduate degree) at Electronic Engineering Polytechnic Institute of Surabaya. This is my second year here and I’m very excited about the short-term JASSO scholarship program. I am applying for the exchange because I would like to experience myself how does the academic atmosphere in Japan, the world-known electric leading country. I have a big dream to become a professor and inventor of technology. One of the best step I have taken to reach my dream is study in mechatronics engineering. In mechatronics engineering, I can learn about mechanics, manufacturing, electronics, and my favorite, control all of them with my program. But, I realized that I was lacking one thing. The idea to invent something. I think, if we can go around the world, check for the unique culture, psychology and technology, we can get unlimited idea of invent. This reasoning that make me try to be part of this program.

Born as an only child and moved around a residence when I was little made me lonely and spend more time to read books. I love to do things themselves and are autodidact. And when I started high school I often interact with many people due to organizations that I follow. Now that I have entered into college, I took a few research studies, competitions and an organization. Of course, this is hard to manage my time and understand some of the lessons at once. But hard is not impossible. I’m very happy bring myself for my big dream but still have a lot of new friends.

After I finish the Student Exchange program, I will return to my country and share whether experience that I get in Japan. I will gather all of my friend and make a study club so the knowledge flow doesn’t stop. Such as studying in polytechnics in general, we don’t study with only theory but with practice. We will choose a topic, invent some technology and offer to world.

There are all of me that I can talk here. Thank you very much for spending your time and attention to read my motivation letter. Thank you for this opportunity.I believe that your program will enrich my experience and open my mind. I very excited if you want to send me a message.

Sincerely,
Tegar Imansyah


 

[Share] Cara mencari informasi secara akurat

Informasi di sini dikotakan menjadi informasi tentang seseorang, bukan sebuah materi pelajaran. Sebuah ilmu yang sebenarnya termasuk sebuah intuisi dan tidak dapat diukur tingkat kemampuannya tetapi sangat penting untuk diketahui bahkan dikuasai. Tujuan kita mencari informasi karena memang kita butuh informasi tersebut atau hanya sekedar pengetahuan umum yang akan digunakan untuk sebuah rencana lainnya atau cuma sekedar iseng.

Mencari informasi mungkin dewasa ini banyak dikaitkan dengan orang yang kepo atau lebih jahatnya lagi disebut stalker. Tetapi sebagai seorang pencari informasi juga, saya lebih senang dipanggil seeker (sama saja sih :p). Kenapa? Konotasi orang yang kepo dan stalker sangat negatif, kesannya kamu adalah seorang galauers yang sedang galau dan mencari kesibukan untuk makin galau. Intinya, kepoers dan stalkers mencari informasi untuk sesuatu yang tidak berdampak positif untuk dirinya. (ex: buka fb pacar orang dan scroll timelinenya sampai tahun dimana si pacar orang baru bikin fb, what a waste of time).

Berbeda dengan seeker (menurutku), seenggaknya dia lebih terencana dalam mencari informasi. Misal seorang seeker ingin mengenal seseorang yang akan dijadikan partner bisnisnya, maka dia akan melakukan hal hal semacam ini:

1. Googling

Yup, google (almost) know everything. Tapi googling tidak untuk mencari apa status fb nya pada tanggal sekian bulan sekian, tapi lebih melihat seberapa alay targetnya, seberapa aktif targetnya, seberapa hebat targetnya, dan yang paling penting bagaimana sifat targetnya.

2. Ask her/his friends

Tidak semua google tau, ada beberapa orang yang memang sangat susah ditemui di dunia maya. Entah karena dia memang menutup diri atau terlalu alay. Atau bisa juga dia adalah seorang introvert yang sangat jenius (dan temank ada yang seperti ini). Nah sekarang seeker harus menggunakan kemampuan komunikasinya. Disini juga berbeda antara stalker, kepoers dan seeker. Seorang seeker tidak boleh cuma jago dunia maya, tapi juga kemampuan komunikasinya juga harus cukup. Bagaimana mungkin seorang seeker berhenti mencari informasi yang ia butuhkan hanya gara gara gagu (majas).

Saya pernah melihat kakak kelas saya menjadi seorang seeker. Dia menemukan sebuah nama yang memenangkan sebuah kompetisi. Lalu dia menghubungi temannya yang satu almamater dengan pemenang tersebut melalui chat fb. Entah bagaimana caranya, kakak kelasku berhasil mengorek informasi sangat sangat dalam dan tepat seperti telah menghipnotis orang. Wow, ilmuku tidak sampai untuk dapat menjelaskan gimana caranya.

3. Direct Ask!

Ada sebuah informasi yang memang tidak dapat ditemukan dimanapun kecuali menanyakan langsung kepada target. Disini ada beberapa keuntungan dan kerugian. Keuntungannya kamu mendapatkan informasi yang kamu tanyakan secara tepat plus informasi tersirat tentang target tersebut. Jika kamu cukup ahli, kamu bisa saja membaca sifat orang tersebut dengan mempelajari gesture tubuh saat berbincang denganmu.

Tapi disana juga titip kelemahannya, bisa jadi kamu yang dibaca sifatnya oleh orang tersebut atau malah lebih buruk, dia risih dengan pertanyaanmu yang terlalu frontal dan fulgar. Ini juga membutuhkan pengalaman serta kepercayaan diri bahwa setiap manusia itu sederajat :D.

Yup, untuk saat ini saya juga dapat berubah jadi introvert yang mudah speachless jika langsung dihadapkan dengan komunikasi empat mata dengan wanita yang pandai berbicara :D.  Tapi justru kelemahan ini harus sering ditempa agar dapat bermanfaat nantinya.

Sekian review singkat tentang materi mencari informasi yang saya dapat dari proses otodidak. Jika ada kesalahan, koreksi, kritik dan saran monggo di ketik. Semoga bermanfaat.

NB:

Mencari informasi tentang seseorang bukan sesuatau yang negatif. Justru itu sangat positif untuk dapat mengakrabkan diri seluruh teman yang kita miliki.