Category: Islam

Muslimah Jatuh Cinta Pada Seorang Lelaki, Apa Yang Harus Dilakukan?

Apa solusi jatuh cinta? Menikah.
Bagaimana jika belum bisa menikah? Bersabar.
Apakah masih boleh kontak dengan orang yang dicintai? Boleh seperlunya dan interaksi yang bersih.
—————— Itu yang dapat aku simpulkan 😀

ABU HAURA MUAFA

oleh: Muhammad Muafa

Assalamu’alaikum.

Ust, saya butuh nasihat. Bagaimana seharusnya sikap muslimah bila ia jatuh cinta pada seorang lelaki? Mohon nasehatnya ust. Afwan mungkin pertanyaan saya sangat blak-blakan. Afwan ust.

Muslimah- di suatu tenpat

Jawaban

Wa’alaikumussalam Warahmatullah.

 Jika seorang Muslimah  merasakan hatinya jatuh cinta kepada seorang laki-laki, maka selama ada jalan  hendaknya diusahakan untuk menikah dengannya. Jika tidak ada jalan yang memungkinkan menikahinya, maka muslimah tersebut wajib Shobr (tabah hati), sampai Allah menggantikan dengan lelaki yang lebih baik,  atau Allah “menyembuhkannya” dari “sakit” cinta tersebut, atau Allah mewafatkannya. Inilah solusi yang lebih dekat dengan petunjuk Nash-Nash Syara’ dan lebih menjaga kehormatan serta dien Muslimah tersebut.

View original post 1,392 more words

Seorang Pahlawan yang Ditakdirkan untuk Saya

pah.la.wan ki  1 n orang yg menonjol krn keberanian dan pengorbanannya dl membela kebenaran; pejuang yg gagah berani ;

Itulah yang KBBI sebut tentang pahlawan. Pahlawan menurut saya adalah beliau yang dengan ikhlas mengorbankan waktu, tenaga dan pikirannya demi sebuah kebenaran yang mengesampingkan egonya terlebih dahulu. Beliau adalah seorang yang mau senantiasa memikirkan orang lain, padahal belum tentu orang lain itu memikirkan beliau.

Bismillahirrahmanirrahim

Cahya Ramadhan, seorang murrabi dari sekumpulan anak ingusan ( termasuk saya) yang berkumpul hanya karena agenda mentoring dari ekstrakurikuler Kerohanian Islam pada saat saya mengenyam pendidikan di Sekolah Menengah Atas. Saat itu, pengetahuan saya akan agama hanya sebatas kewajiban kita sebagai manusia terhadap Allah SWT agar mendapatkan Rahmat-Nya, tanpa mengetahui arti dan tujuannya. Jadi dalam menjalani keagamaan hanya sekedar sholat, berdoa, mengaji, puasa dan amar makruf nahi mungkar.

Mungkin ini yang dinamakan takdir. Allah telah mempertemukan saya dengan beliau. Beliau terus tanpa lelah men-sms keseluruh anggota mentoring untuk hadir dan menjaga ukhuwah islamiyah. Empati pun timbul dalam hati. Saya melihat ini sebagai kesempatan yang mungkin tidak dapat saya terima di tempat lain. Saya lalu mengikuti pertemuan pertemuan bersama teman teman saya. Bersama beliau, mentoring seakan menjadi sesuatu yang menantang, tidak hanya sebuah komunikasi searah layaknya pembelajaran di sekolah.

Beliau tiap pertemuannya membagi tugas kepada kami, ada yang bagian MC, Mencari beberapa berita tentang islam yang sedang hangat, mempelajari tentang islam di masa lampau, membuat kami bersaudara dan sebagainya. Kegiatan pun selain mempresentasikan tiap tiap tugas itu, selalu dibuka dengan tilawah, lalu ada juga materi dari beliau. Terkadang juga kami melakukan futsal bareng, makan bareng bahkan sering kali sang murrabi kami tersebut memberikan hadiah kepada kami, Al-Qur’an, buku dan sebagainya. Beliau mengajarkan apa yang guru agama di sekolah dan orang tua saya tidak ajarkan. Dengan raut muka yang selalu tersenyum seakan memancarkan karisma yang luar biasa hebat.

Tidak terasa, tiga tahun kami melakukan rutinitas tersebut. Mungkin jika di ranking memang saya yang paling sering bolos dalam mentoring. Tetapi, saya merasa sangat nyaman disini. Dan setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Saya kembali ke jawa timur, untuk kembali ke tanah kelahiran saya dan menuntut ilmu yang lebih tinggi di sana. Saya masih ingat bagaimana mentoring terakhir yang kami lakukan. Sebenarnya tidak ada yang spesial saat itu, tapi dalam hati ini ada rasa takut untuk kehilangan orang yang selalu menjaga kekonsistenan hati ini selalu kepada-Nya. Salam perpisahan pun kami sampaikan dan sekali lagi saya diberikan hadiah oleh beliau. Sebuah buku renungan tentang remaja islam. Hati ini sungguh terharu akan beliau.

Saya pun kembali ke jawa timur. Masih dengan ketakutan tidak bisa menjaga kekonsistenan hati ini. Suatu saat ada undangan grup di whatsapp, grup dimana teman teman saya dan Ka Cay, begitu kami memanggilnya, telah berkumpul dan tetapi berkomunikasi aktif menjaga ukhuwah. Saya tersenyum, ternyata beliau adalah seseorang yang diberikan Allah dalam doaku untuk terus berada dijalan-Nya yang lurus. Ukhuwah ini masih terus berjalan hingga saat ini.

Beliaulah pahlawanku. Mengajarkanku tentang agama yang selama ini kuyakini. Saya tidak mengatakan bahwa orang tua dan guru agama saya disekolah tidak mengajarkan agama yang cukup. Mereka dengan hebatnya mengajarkan saya pondasi agama yang cukup untuk saya melakukan amar makruf nahi mungkar dan taat kepada Allah SWT, tetapi Ka Cay memberikan perspektif yang berbeda tentang Islam yang mungkin tidak bisa diungkapkan oleh orang tua dan guru saya tanpa melenceng dari apa yang memang diajarkan oleh Rasul Allah.