Category: Inspirasi dan Motivasi

Bukan Hanya Menjadi Penulis

Bukan Hanya Menjadi Penulis

Saya bukan seorang penulis yang baik, bahkan sempat beberapa waktu hilang minat menulis saya karena kesibukan kehidupan hedonisme yang begitu mempesona[1]. Tapi saya masih saja tetap yakin, bahwa menulis adalah sebuah kegiatan yang sangat penting untuk tetap dilestarikan, khususnya oleh masyarakat Indonesia. Kenapa? Menulis adalah menorehkan ide pikiran yang no one knows menjadi sesuatu yang bisa diambil pelajaran oleh segenap umat manusia.

Masih ingat dengan kata kata bijak “Buku adalah Jendela Dunia”? Sekian lama saya kira kata itu adalah teguran untuk kita yang malas membaca. Tapi saya pikir pikir lagi, jika Buku adalah jendela dunia dan semua orang hanya membaca lalu semua orang telah membaca semua buku, lantas buku apa lagi yang bisa dibaca? Itu lah pentingnya menulis, sebuah regenerasi ilmu, pengetahuan dan pengalaman. Membuat kita tau tanpa harus mengalami. Mengasah otak kita meresapi, memaknai, menciptakan imajinasi diluar batas pencapaian panca indra hingga tercetuslah suatu gagasan yang luar biasa yang mungkin bisa membawa kebaikan untuk umat manusia.

Saya berbicara bukan sebagai jurnalis, sastrawan, novelis atau profesi lain yang berhubungan dekat dengan menulis. Saya kebutulan mempelajari teknologi dan saya merasakan bahwa ilmu teknologi disini sangat sangat kurang. Mereka hanya membahas “kulitnya” saja. Keresahan itu lah yang menyadarkan saya, bahwa saya gak boleh berhenti menulis. Anggap saja tulisan jelek saya sebelum dan sesudah ini adalah latihan yang mungkin bisa menjadi bagus beberapa tahun lagi. Itu jauh lebih baik dari pada baru memulai menulis beberapa tahun lagi (masih jelek lagi!).

Menurutku bukan cuma gemar membaca saja yang harus ditanam tapi juga menciptakan apa yang dibaca dengan kualitas yang cukup untuk membuat semua orang paham. Ayo Men! Menulis bukan hanya tugas novelis! Tulisan bukan cuma yang ada di koran, majalah, novel dan sebagainya. Sebagai calon pembuat teknologi misalnya, saya harus mendokumentasikan segala yang saya buat (dokumentasi bukan cuma foto, tapi juga segala aktifitas, kesalahan, pengalaman dan sebagainya) agar nantinya berguna untuk saya sendiri agar tidak lupa, syukur syukur bisa berguna untuk orang lain.

Teori doang mah gampang! Bahkan professional dibidangnya pun terkadang menyadari bahwa melakukan dokumentasi adalah kelemahannya. Ya, itu kekurangan kita! Kita harus akui itu! Pantas kita gak maju maju, karena tidak ada regenerasi! Tidak ada yang menulis dan tidak ada yang membaca.

Akhir kata, menulis adalah berbagi. Bukankah telah dikatakan bahwa berbagi ilmu pengetahuan tidak akan mengurangi ilmunya? Setelah berbagi, bukalah hati untuk mencari lagi. Intinya adalah, IMHO, membaca dan menulis adalah sebuah integrasi yang tidak bisa dipisahkan.


[1]Kehidupan hedonisme yang begitu mempesona, kata kata yang aku dapat dari Mas Gamal Albin Said saat acara Urban Social Forum di Surabaya.


Seorang teman pernah memberi saya sebuah pesan saat saya mau menuntut ilmu di negeri yang jauh. Sebuah pesan baik yang sangat berkesan dan tak terlupakan…

“Pelajarilah Ilmu karena belajar ilmu adalah kebaikan, menuntut ilmu adalah ibadah, menghafal ilmu adalah tasbih, mendiskusikan ilmu adalah taqarrub dan mengajarkan kepada orang lain adalah shadaqah” – Mu’adz bin Jabbal RA.

Suatu keyakinan dalam diriku, jika kamu telah terbuka hatinya dan mau mulai menulis, jika kamu merasa tulisanmu belum bagus maka kamu kurang membaca. Maka bacalah, karena itu akan meningkatkan kosakata, pengalaman, gaya bahasa dan segala ilmu yang mungkin tidak terbayangkan. Bukankah itu juga perintahNya?

Adupun trigger dari tulisan ini adalah pertanyaan dari pemuda Jepang kepada saya, “Berapa kali kamu membaca buku dalam setahun?”. Hal tersebut lalu melemparkan imajinasi saya, oke saya membaca, tapi apa yang saya baca? Apakah itu bermanfaat? Dan apa yang aku dapat dari membaca itu? Apakah saya bisa berbagi dari apa yang telah saya baca? Bagaimana dengan teman temanku, apakah mereka juga membaca?

Adapun beberapa teman saya yang cukup pandai mengolah kata pada status facebooknya, sayang sekali hanya menjadi sebuah status yang semenit berikutnya berada di paling bawah beranda saya. Mas Mbak yang saya hormati, tulisan Anda sangat luar biasa. Saya ingin membacanya dikemudian hari lagi dan tidak mungkin saya membuka beranda saya untuk mencarinya. Buatlah sebuah wadah yang memang diciptakan untuk menampunya bernama Blog. Tulislah disana, jangan hanya di status.

Advertisements

Karakteristik Pemimpin yang Dibutuhkan Bangsa Indonesia

Esai ini dalam rangka untuk memenuhi syarat mengikuti beasiswa yang diadakan oleh dataprint. Tema dari esai ini adalah Karakteristik Pemimpin yang Dibutuhkan Bangsa Indonesia.

Sebelum melanjutkan kepembahasan tentang karakteristik pemimpin yang dibutuhkan Bangsa Indonesia, ada baiknya menyamakan persepsi agar tidak ada kesalahpahaman saat pembacaan esai ini. Seorang pemimpin adalah seorang yang mampu membimbing umat manusia atau sistem yang beliau pimpin [1]. Umat manusia kali ini hanya dispesifikan sebagai Bangsa Indonesia sedangkan sistem dapat berupa sistem yang dibuat oleh manusia ataupun sistem yang telah terjadi karena hukum alam seperti sebuah ekosistem. Jadi Pemimpin Bangsa Indonesia tidak berarti harus menjadi seorang Presiden atau pejabat negara, melainkan setiap manusia yang mampu atau paling tidak mau untuk membimbing objek objek yang telah disebutkan tadi.

Lalu pembahasan selanjutnya Bangsa adalah kelompok masyarakat yang bersamaan asal keturunan, adat, bahasa dan sejarahnya [2]. Jadi, jika akan membahas tentang Bangsa Indonesia yaitu kelompok masyarakat yang tinggal di Indonesia serta telah memiliki budaya Bangsa Indonesia.

Indonesia merupakan negara yang sangat luas dan telah terkenal atas kekayaan budayanya. Ini merupakan sebuah tantangan tersendiri bagi seluruh pemimpin bangsa karena kondisi di setiap sisi Indonesia dapat berbeda kebudayaannya. Walaupun begitu, secara umum kebudayaan seluruh Bangsa Indonesia adalah keramahannya. Sayangnya hal tersebut kiranya sedikit luntur karena globalisasi yang gagal dibendung dan difilter. Oleh sebab itu, sangat dibutuhkan seorang pemimpin yang tidak hanya mencintai Indonesia, tapi mampu menularkan kecintaannya. Menularkan kecintaan bukan dengan kekuasaan saja, tapi dengan berbagai ide unik yang mampu membuat empati pada seluruh masyarakat.

Dengan telah timbulnya kecintaan pada Indonesia, baik pada jajaran pemerintah serta seluruh masyarakat maka Bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang kokoh. Pejabat pemerintah tidak akan melakukan korupsi, menjual aset negara ke pihak asing atau berlaku sewenang wenang terhadap alam karena beliau tau itu bukan merupakan bukti cintanya kepada Indonesia. Masyarakat yang mencintai Indonesia akan mampu membela Indonesia di mata dunia, mampu menciptakan sesuatu demi Indonesia serta mau berkorban demi Indonesia yang lebih baik.

Saya percaya, dengan adanya satu saja karakteristik pemimpin yaitu mencintai Indonesia yang mampu menularkan kecintaannya akan mampu menciptakan sinergitas di seluruh Bangsa Indonesia.

Referensi
[1] http://bahasa.cs.ui.ac.id/kbbi/kbbi.php?keyword=pimpin&varbidang=all&vardialek=all&varragam=all&varkelas=all&submit=kamus
[2] http://bahasa.cs.ui.ac.id/kbbi/kbbi.php?keyword=bangsa&varbidang=all&vardialek=all&varragam=all&varkelas=all&submit=kamus

Seorang Pahlawan yang Ditakdirkan untuk Saya

pah.la.wan ki  1 n orang yg menonjol krn keberanian dan pengorbanannya dl membela kebenaran; pejuang yg gagah berani ;

Itulah yang KBBI sebut tentang pahlawan. Pahlawan menurut saya adalah beliau yang dengan ikhlas mengorbankan waktu, tenaga dan pikirannya demi sebuah kebenaran yang mengesampingkan egonya terlebih dahulu. Beliau adalah seorang yang mau senantiasa memikirkan orang lain, padahal belum tentu orang lain itu memikirkan beliau.

Bismillahirrahmanirrahim

Cahya Ramadhan, seorang murrabi dari sekumpulan anak ingusan ( termasuk saya) yang berkumpul hanya karena agenda mentoring dari ekstrakurikuler Kerohanian Islam pada saat saya mengenyam pendidikan di Sekolah Menengah Atas. Saat itu, pengetahuan saya akan agama hanya sebatas kewajiban kita sebagai manusia terhadap Allah SWT agar mendapatkan Rahmat-Nya, tanpa mengetahui arti dan tujuannya. Jadi dalam menjalani keagamaan hanya sekedar sholat, berdoa, mengaji, puasa dan amar makruf nahi mungkar.

Mungkin ini yang dinamakan takdir. Allah telah mempertemukan saya dengan beliau. Beliau terus tanpa lelah men-sms keseluruh anggota mentoring untuk hadir dan menjaga ukhuwah islamiyah. Empati pun timbul dalam hati. Saya melihat ini sebagai kesempatan yang mungkin tidak dapat saya terima di tempat lain. Saya lalu mengikuti pertemuan pertemuan bersama teman teman saya. Bersama beliau, mentoring seakan menjadi sesuatu yang menantang, tidak hanya sebuah komunikasi searah layaknya pembelajaran di sekolah.

Beliau tiap pertemuannya membagi tugas kepada kami, ada yang bagian MC, Mencari beberapa berita tentang islam yang sedang hangat, mempelajari tentang islam di masa lampau, membuat kami bersaudara dan sebagainya. Kegiatan pun selain mempresentasikan tiap tiap tugas itu, selalu dibuka dengan tilawah, lalu ada juga materi dari beliau. Terkadang juga kami melakukan futsal bareng, makan bareng bahkan sering kali sang murrabi kami tersebut memberikan hadiah kepada kami, Al-Qur’an, buku dan sebagainya. Beliau mengajarkan apa yang guru agama di sekolah dan orang tua saya tidak ajarkan. Dengan raut muka yang selalu tersenyum seakan memancarkan karisma yang luar biasa hebat.

Tidak terasa, tiga tahun kami melakukan rutinitas tersebut. Mungkin jika di ranking memang saya yang paling sering bolos dalam mentoring. Tetapi, saya merasa sangat nyaman disini. Dan setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Saya kembali ke jawa timur, untuk kembali ke tanah kelahiran saya dan menuntut ilmu yang lebih tinggi di sana. Saya masih ingat bagaimana mentoring terakhir yang kami lakukan. Sebenarnya tidak ada yang spesial saat itu, tapi dalam hati ini ada rasa takut untuk kehilangan orang yang selalu menjaga kekonsistenan hati ini selalu kepada-Nya. Salam perpisahan pun kami sampaikan dan sekali lagi saya diberikan hadiah oleh beliau. Sebuah buku renungan tentang remaja islam. Hati ini sungguh terharu akan beliau.

Saya pun kembali ke jawa timur. Masih dengan ketakutan tidak bisa menjaga kekonsistenan hati ini. Suatu saat ada undangan grup di whatsapp, grup dimana teman teman saya dan Ka Cay, begitu kami memanggilnya, telah berkumpul dan tetapi berkomunikasi aktif menjaga ukhuwah. Saya tersenyum, ternyata beliau adalah seseorang yang diberikan Allah dalam doaku untuk terus berada dijalan-Nya yang lurus. Ukhuwah ini masih terus berjalan hingga saat ini.

Beliaulah pahlawanku. Mengajarkanku tentang agama yang selama ini kuyakini. Saya tidak mengatakan bahwa orang tua dan guru agama saya disekolah tidak mengajarkan agama yang cukup. Mereka dengan hebatnya mengajarkan saya pondasi agama yang cukup untuk saya melakukan amar makruf nahi mungkar dan taat kepada Allah SWT, tetapi Ka Cay memberikan perspektif yang berbeda tentang Islam yang mungkin tidak bisa diungkapkan oleh orang tua dan guru saya tanpa melenceng dari apa yang memang diajarkan oleh Rasul Allah.

#MenjagaApi Mungkin ini cara orang tua saya mendidik anaknya – Sebuah Kisah Inspiratif

Saya menemui seorang pemuda luar biasa yang saya temui dalam sebuah kegiatan volunteer. Kisahnya dimulai saat masih belajar di sekolah dasar. Hidupnya yang berkecukupan harus hancur ketika kedua orang tuanya berpisah. Beliau tidak ikut bersama ayah atau pun ibunya, melainkan dengan seorang yang selama ini membantu di rumahnya.

Bersama orang tua asuhnya, kehidupannya menjadi jauh lebih sederhana. Beliau memiliki banyak keterbatasan finansial terutama untuk melanjutkan pendidikannya. Beliau pun melanjutkan mengenyam pendidikan pesantren dengan harapan tidak terlalu memberatkan orang tua asuhnya. Pendidikan pesantren menempanya menjadi pribadi baru sampai akhirnya beliau menyelesaikan pendidikan wajib belajar.

Setelah lulus dari pesantren, kebimbangan dialami oleh beliau. Orang tua asuhnya tidak mampu untuk membiayai pendidikan di perguruan tinggi. Tetapi semangat beliau untuk tetap mengenyam pendidikan sungguh luar biasa.

Akhirnya beliau menemui ayahnya yang telah sepuluh tahun tidak ditemui. Ia meminta sebuah printer milik ayahnya lalu beliau jual untuk kebutuhan mendaftar kuliah di UIN Sunan Gunung Djati. Saat itu beliau hanya memikirkan bagaimana caranya beliau untuk mendaftar. Urusan biaya setelah dinyatakan diterima adalah urusan belakang.

Dan Tuhan memang bersama orang yang bersungguh-sungguh. Beliau dinyatakan diterima kuliah di kampus tersebut. Dalam kebahagiaan, beliau juga sangat bingung untuk membayar uang kuliah tersebut. Sampai akhirnya Tangan Tuhan pun turun. Beliau bertemu dengan seseorang yang memberinya uang untuk biaya kuliah.

Akhirnya, impiannya untuk dapat berkuliah terkabul. Walaupun begitu, beliau masih harus memikirkan bagaimana cara beliau mendapatkan uang untuk dapat kuliah disemester selanjutnya. Hingga beliau memutuskan menjadi pengurus masjid dan mampu membayar biaya kuliah semester ke dua.

Pun begitu, prestasi akademik yang beliau capai sangat mengesankan dengan mendapat IPK 4.0. Hal tersebut mengantarkan pihak kampus untuk berbaik hati memberikan beasiswa hingga mendapatkan gelar sarjana.

Apa yang beliau petik dari kehidupannya? Beliau mengatakan ”Mungkin ini adalah cara orang tua saya mendidik saya hingga saya bisa seperti ini”. Sungguh kebesaran hati yang begitu luar biasa.

Kekompakan Semut yang Memang Luar Biasa (Pelajaran sore yang hujan ini)

Banyak pepatah yang mengatakan bahwa kita harus kompas seperti semut. Banyak hal yang dapat membuktikan hal tersebut misalnya bergotong royong untuk membuat rumah, menyimpan makanan dan lain sebagainya.

Hari ini kampus saya hujan cukup deras setelah berbulan bulan mengalami kekeringan. Hal tersebut tentu membuat banyak makhluk kaget. Kala itu di sebuah lapangan di kampus saya tergenang air. Beberapa orang duduk dipinggir lapangan dengan menikmati suasana hujan yang baru terjadi hari ini, sungguh menentramkan jiwa mahasiswa teknik yang stress. Diantara beberapa orang itu terdapat saya dan kedua teman saya menikmati semilir angin sejuk sambil bercanda tawa.

“No Gadget Allowed” adalah istilah yang saya gunakan untuk menikmati Quality Time bersama teman teman. Hal ini biasa saya lakukan dengan berinteraksi bersama yang lain dan menikmati hal hal sekitar. Kala itu saya menikmati pemandangan di genangan air di depan saya tersebut. Ada daun mengambang, batu tergenang, semut mengambang, kumbang mengambang dan …….. Wait, lihat di semut tersebut. Terdapat pemandangan Extraordinary yang baru pertama kali kulihat! Semut mengambang di air dan membentuk segumpalan pasukan semut.

Segumpalan pasukan semut tersebut saling menindih dan berenang kesana kemari seperti tak terarah. Tapi saya salah besar. Ternyata segumpalan semut tersebut adalah sebuah formasi luar biasa kompak yang membentuk seperti kapal tim sar yang bersiap menolong sesamanya. Ya, Menolong semut lainnya!

Segumpal Semut
Segumpal Semut

Jika kulihat sekilas, terdapat tiga bagian yaitu bawah, tengah dan atas. Bagian bawah memiliki kuantitas semut yang paling banyak dan bertugas untuk melakukan pendayungan. Bagian tengah adalah pembentuk barikade dan penolong jika ada yang ditemukan. Dan bagian atas adalah dua semut yang seperti melakukan komando dan seperti radar mencari semut lainnya yang mengambang sendirian.

Tim Sar Semut sedang beraksi
Tim Sar Semut sedang beraksi

Saya pertama mengira hal tersebut seperti hal yang kebetulan dan tidak mempercayai hipotesa yang saya buat diatas. Tapi praktek membuktikan bahwa 3 – 4 kali memang segumpalan semut tersebut berenang menuju semut lainnya, bukan hanya terseret arus.

Setelah melakukan kesimpulan tersebut, saya tidak tega dan mengambil sebuah daun dan menyerok mereka ke daratan. Luar biasanya lagi, mereka tau cara mengantri. Mereka melompat ke daratan dimulai dari paling atas dan urut menuju yang paling bawah. Dan yang lebih mencengangkan lagi, dibagian paling bawah ada semut yang paling besar menjadi basis dari semua semut tersebut. Kalo tidak salah semut paling besar adalah raja atau ratu dari semut tersebut. Bayangkan, raja atau ratu semut rela diinjak injak dan yang paling pertama mati jika nanti tidak ada yang bisa menyelamatkan mereka.

IMG_20141205_162912

Nilai yang dapat dipetik dari kisah nyata tersebut adalah:

  • Semut mengajarkan kita tentang kekompakan.

  • Semut memang makhluk yang kecil dan mudah diinjak, tapi Tuhan menciptakannya tidak sendiri. Begitu pula kita, walau kita merasa kecil dan mudah diinjak, percayalah bahwa kita tidak sendiri.

  • Hujan itu anugrah Tuhan. Jika hari ini tidak ada hujan, tidak ada pelajaran kekompakan yang bisa kupelajari. Pelajaran ini mungkin tidak akan mengena jika hanya diceritakan di acara latihan kepemimpinan atau manajemen kekompakan.

Yang Harus Dipersiapkan Menuju Kejayaan Suramadu

Foto Jembatan Suramadu
Jembatan Suramadu seperti yang terlihat dari pantai Surabaya. (Sumber: en.wikipedia.org)

Selamat pagi kawula muda dimanapun Anda berada. Jembatan Suramadu seperti tidak ada habisnya untuk diperbincangkan. Mulai dari Jembatan Nasional penghubung Pulau Madura dan Pulau Jawa [1], Jembatan Terpanjang di Indonesia [2], Jembatan Tercanggih di Indonesia [3], hingga penampilan lampu lampu yang luar biasa indah pada saat malam hari. Tapi semua itu seakan hanya akan menjadi sebuah buah bibir yang manis tanpa memberi dampak yang besar bagi masyarakat sekitar suramadu dan juga pulau madura. Oleh karena itu, berikut ini beberapa pemikiran tentang Percepatan dan Fasilitasi Pembangunan Suramadu agar proyek senilai 4.5 triliun tersebut tidak hanya menjadi jembatan penyebrangan.

Suramadu dimata orang awam

Orang awam disini diwakilkan oleh penulis sendiri. Penulis adalah warga sidoarjo sekaligus seorang mahasiswa di surabaya yang memiliki teman dari berbagai daerah. Pernah ada dua teman penulis dari Bandung datang ke surabaya lalu ingin sekali melewati Jembatan Suramadu yang terkenal itu katanya. Penulis mengantarnya pada malam hari menggunakan motor. Tak pelak dengan keindahan jembatan diatas selat dibalut tarian warna warni lampu membuat teman teman penulis tertawa dan berteriak puas menandakan kegembiaraannya. Satu poin baik untuk Jembatan Suramadu.

Tapi perjalanan tidak bisa berhenti di tengah jembatan dan itu kami maklumi demi terciptanya kondisi aman bagi pengguna jalan maupun “kesehatan” jembatan. Singkatnya kami tiba di pulau madura. Entah kenapa suasana berbeda dari sebelumnya. Suasana gelap dan sepi sedikit membuat kami ciut. Terlebih karena kami belum pernah sekalipun menginjakan kaki di Pulau Madura ini. Jika Madura ingin menonjolkan sisi pariwisatanya, maka beritahulah kami yang belum pernah datang kemari ini misal dengan sebuah papan yang menunjukan peta Pulau Madura di pinggir jalan dan menandakan beberapa tempat yang menarik untuk dikunjungi.

Papan “You Are Here” buat yang baru sampai di Madura (Ilustrasi dari buku: Don’t Make Me Think)

Kenapa papan tersebut begitu penting? Ya karena kami merasakannya sendiri. Kami tidak tau apa apa tentang Madura. Jadi kami selesai melewati Jembatan Suramadu, kelaparan dan kedinginan, mencari warung terdekat dan makan seadanya (waktu itu hanya ayam bakar dan kopi susu) lalu kembali ke Surabaya. Bayangkan jika ada 1000 orang seperti kami, betapa ruginya mereka tidak mengetahui “daleman” Madura yang sebenarnya.

Suramadu dimata seorang manajer pemasaran

Pada bagian ini, yang penulis maksud adalah ayah dari penulis. Suatu malam ada diskusi singkat kami tentang bagaimana caranya sebuah daerah, khususnya di Madura, dapat mendapat akselerasi pembangunan. Beliau menyebutkan tentang sesuatu yang ia sebut 3 Fundamental Development. Kita tau dengan adanya Jembatan Suramadu ini, diharapkan kesejahteraan masyarakat disekitar lokasi maupun di Pulau Madura pada umumnya akan terangkat dan sejajar dengan masyarakat di Perkotaan Surabaya pada umumnya. Untuk dapat melakukan hal tersebut, yang paling berpengaruh adalah kebijakan dari pemerintahannya sendiri. Ayah dari penulis menyebutkan hal pertama yang harus dilakukan adalah membangun kapabilitas dari masyarakat sekitar dengan cara memberikan pelatihan pelatihan softt skill maupun keterampilan serta kesadaran untuk menjadikan wilayah daerah sekitar Jembatan Suramadu menjadi tanggung jawab bersama.

Yang kedua juga merupakan campur tangan dari pihak penguasa yaitu dengan penyetaraan harga baik di Surabaya dan di Madura. Hal ini dirasa penting karena jika ternyata harga di Madura sendiri lebih mahal dari pada di Surabaya, bukan hal yang tidak mungkin masyarakat serta pengunjung justru lari ke Surabaya dan impian untuk menyeimbangkan kesejahteraan pun terancam gagal. Penyetaraan dapat tercapai dengan cara melakukan penggratisan tol Suramadu atau dari pengembangan Madura sebagai produsen dari berbagai produk. Hal ini merupakan kelanjutan dari pembangunan kapabilitas masyarakat dengan memfasilitasi dengan adanya produk berkualitas dengan harga bersaing.

Dan yang terakhir adalah pembangunan sistem. Ketika masyarakat dan produk telah siap untuk unjuk gigi, sekarang waktunya sistem yang dibenahi. Sistem disini bisa berupa sistem informasi seperti website yang menunjukan betapa siapnya Madura untuk dikunjungi ratusan ribu turis sekalipun, bisa juga sistem sentra dan penataan wisata dengan khas madura atau pun yang lainnya.

Dari ketiga hal diatas, semua harus dikerjakan secara gotong royong dan sekuensial. Jika tidak, mungkin kita hanya mengundang orang untuk memberi tau betapa tidak siapnya kita [4].

Suramadu dimata pecinta wisata

Ibu saya sangat senang berwisata dan selalu mencari cari tempat yang menarik untuk dikunjungi. Begitu saya menyebutkan tentang Jembatan Suramadu, berbagai ide dan referensi pun digambarkan misalnya tentang bagaimana kita dapat menikmati pemandangan Jembatan Suramadu dari pinggir pantai secara nyaman.

Golden Gate pada saat senja dan dapat dinikmati oleh pejalan kaki. (Sumber: en.wikipedia.org)

Mari kita lihat beberapa potret di sekitar kawasan Suramadu:

Screenshot from 2014-12-02 00:53:16 Screenshot from 2014-12-02 00:54:21 Screenshot from 2014-12-02 00:56:33Ketiga gambar tersebut adalah daerah sekitar Jembatan Suramadu bagian Surabaya diambil menggunakan google maps. Gambar tersebut menurut saya belum mewakili dari seluruh daerah sekitar Jembatan Suramadu karena saya tidak memiliki gambar pada bagian Madura. Sebagai gantinya, penulis akan mendeskripsikan sedikit pada bagian Madura.

Pada Bagian Madura, terdapat seperti bukit di kiri dan kanan Jembatan Suramadu yang terhubung dengan sebuah jembatan kecil untuk kendaraan. Pada bagian kanan (arah ke Surabaya), terdapat bagian bukit yang tingginya sama dengan jalan dan menjorok ke luar sehingga terkadang beberapa pengendara motor dapat berhenti sejenak untuk melakukan sesi foto foto di tempat yang cukup terbatas tersebut.

Dari keduanya, dapat diberikan ide bahwa kita membutuhkan:

  • Sebuah spot untuk foto kenang kenangan
  • Sebuah tempat bersantai bagi pejalan kaki untuk menikmati pemandangan indah pantai dan jembatan terpanjang di Indonesia
  • Spot makanan yang tersentral dan rapi. Bukan hanya sekedar warung yang terkesan ilegal.
  • Mungkin ditambahkan lagi ikon pada bagian Madura atau pun Surabaya sebagai tanda “Selamat Datang”.
Terdapat spot untuk berfoto dan terdapat ikon di dekat jembatan (Sydney, Australia) (Photo Source: http://slsongtravel.blogspot.com/2014/06/mrs-macquaries-chair.html)
Ikon “Selamat Datang” jika berkunjung ke Lampung (Sumber foto: http://motormogok.blogspot.com/ )

Kesimpulan

Pembenahan demi pembenahan masih harus tetap di lanjutkan untuk membuat Jembatan Suramadu dan sekitarnya tetap berjaya. Berbagai pembenahan mulai dari pengembangan masyarakat, sistem dan fasilitas diperlukan untuk menarik setiap orang yang mendengan kata “Suramadu“.

Sekian #IdeUntukSuramadu dari penulis (Tegar Imansyah). Kurang lebihnya mohon maaf dan tetap terus semakin tinggi (#Excelsior).

Twitter: http://twitter.com/Tegar_Imansyah

Facebook: http://facebook.com/tegarimansyah

Referensi

[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Jembatan_Nasional_Suramadu

[2] http://www.apasih.com/2011/07/10-jembatan-terpanjang-di-indonesia.html

[3] http://www.kaskus.co.id/thread/526783b00e8b464638000002/shms-jembatan-suramadu-jembatan-tercanggih-pertama-di-indonesia/

[4] Mengambil kata kata dari buku “Hot Branding: Cara paling panas mengorbitkan Merek” karangan Ippho Santosa

Ada harga yang harus dibayar untuk sebuah komitmen

 

Slogan jawa timur

 

Sebelumnya aku percaya kalau komitmen itu mahal. Ada harga yang harus dibayar.

Tetapi setelah melihat slogan dari jawa timur yang notabene tanah kelahiranku, Jer basuki mawa beya -> semua keberhasilan membutuhkan pengorbanan (atau biaya). Kurasa itu cocok dengan apa yang biasa aku yakini 😀

Jadi, nikmatin aja yang sudah terjadi. Pegang teguh komitmen tersebut. Lakukan satu hal sampai selesai, baru selesaikan yang lain. (QS Al-Insyirah ayat 7)

Ternyata Pagi itu Indah….

Hari ini, tumben aku bangun sangat pagi –sekitar pukul 3 pagi. Aku bangun menatap kamar kos yang cukup berantakan dari buku diktat yang harus disalin, buku “bacaan sebelum tidur”, charger hp yang tergeletak, kertas HVS dimeja dan sebagainya. Seperti biasa aku teringat terdapat tugas untuk nanti siang dan beberapa untuk beberapa hari kedepan.

Setengah jam bergelut berusaha menyelesaikan tugas, burung burung mulai berkicau. Aku jadi merasa waktu berhenti dan hati terasa begitu damai. Ntah kenapa. Biasanya aku mendengar suara mereka berusaha bersaut sautan membangunkanku pada jam 6. Mungkin karena pagi hari ini aku bangun sendiri dan dapat menikmati suara mereka yang ternyata benar benar merdu –berbeda saat kamu kesiangan.

Kubuka gorden jendelaku, angin semilir dingin masuk menyegarkan tubuh tetapi masih gelap. Aku tersenyum sendiri, seakan membayangkan aku berdiri menatap langit yang biru, melihat sunset –Hal yang udah lama banget gak aku lakuin.

Kenapa tidak aku lakukan? Aku keluar kamar, berjalan menuju balkon lantai dua, menghirup dalam dalam udara ini. Masya Allah, sangat segar. Walaupun mungkin salah perkiraan, sunset masih cukup lama, tapi aku menyadari satu hal, Pagi itu sangat indah. Pagi merupakan anugrah Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan sebisa mungkin, aku tidak ingin kehilangan momen indah ini.

Bangun temanku, jangan terlelap terlalu dalam. Pagi Indah sambutlah.

Bikin Plan untuk Hidup-mu! — Hanya tentang introspeksi diri

Di penghujung liburan semester ini yang (seharusnya) panjang tapi ternyata tidak terasa ini, membuatku terfikir dan termenung. Apa kemajuan yang telah aku buat selama sebulan ini? Nothing?

Kadang malu kepada Sang Pencipta, waktu yang diberikannya seperti mengalir begitu saja. Terkadang waktu kubiarkan percuma hanya dengan melihat jam tangan bergerak detik demi detik. Padahal pada aliran waktu yang percuma itu banyak berseliweran ide ide brilian, cantik, terstuktur, sistematis dan masif. Seharusnya aku membawa jaring untuk menangkap mereka dan bisa saja kuberikan kepada tengkulak agar dapat merasakan sesuap nasi (–Kiasan–).

Dan di sore hari ini, kejadian itu terulang lagi. Bolak balik liat fb, twitter, kaskus, 1cak and nothing change. Tidak ada yang baru dan itu membuatku harus berteriak dalam hati, sial hidupku terbuang percuma.

Terpikir aku ingin menghapus seluruh akun media sosial yang hanya memberiku hiburan, tapi tak membuat hatiku nyaman. Hiburan bisa basi dengan cepat. Aku mencari cara agar tidak bosan, dan aku lupa akan jati diriku. Aku orang yang cepat bosan, aku orang yang harus melakukan semua step by step — atau nanti tidak akan berarti apa apa buatku –, dan aku harus memiliki teman.

Lalu apa hubungannya dengan judul –Bikin plan untuk hidup-mu!– ? Ya, aku membuka sketchbook dan melihat grand planning untuk hidupku. Menelusuri dimana aku, dan sepertinya aku menemukan persimpangan antara surga dan neraka. Merinding, arahku tergeser sedikit menuju neraka.

Aku berdiri, menulis tulisan ini dan menatap esok hari. Gak ada lagi tegar yang ngaret. Gak ada lagi tegar yang males. Gak ada lagi tegar yang menunda nunda pekerjaan. Yang ada tetap tegar yang murah senyum dan nyantai dengan tambahan sedikit lebih rapi, baik penampilan maupun yang dilakukan. Itu semua tidak lain harus dengan menulis kembali, what should i do?

Sekian

 

Masalah apa saja yang sudah kulakukan liburan ini? Not bad, (kalo gak mau dibilang useless). Liburan ke banyuwangi yang indah, berkumpul dengan keluarga yang aku cintai, presentasi pertama didapan 200 orang yang tak terlupakan. Ya begitulah.