Kekompakan Semut yang Memang Luar Biasa (Pelajaran sore yang hujan ini)

Banyak pepatah yang mengatakan bahwa kita harus kompas seperti semut. Banyak hal yang dapat membuktikan hal tersebut misalnya bergotong royong untuk membuat rumah, menyimpan makanan dan lain sebagainya.

Hari ini kampus saya hujan cukup deras setelah berbulan bulan mengalami kekeringan. Hal tersebut tentu membuat banyak makhluk kaget. Kala itu di sebuah lapangan di kampus saya tergenang air. Beberapa orang duduk dipinggir lapangan dengan menikmati suasana hujan yang baru terjadi hari ini, sungguh menentramkan jiwa mahasiswa teknik yang stress. Diantara beberapa orang itu terdapat saya dan kedua teman saya menikmati semilir angin sejuk sambil bercanda tawa.

“No Gadget Allowed” adalah istilah yang saya gunakan untuk menikmati Quality Time bersama teman teman. Hal ini biasa saya lakukan dengan berinteraksi bersama yang lain dan menikmati hal hal sekitar. Kala itu saya menikmati pemandangan di genangan air di depan saya tersebut. Ada daun mengambang, batu tergenang, semut mengambang, kumbang mengambang dan …….. Wait, lihat di semut tersebut. Terdapat pemandangan Extraordinary yang baru pertama kali kulihat! Semut mengambang di air dan membentuk segumpalan pasukan semut.

Segumpalan pasukan semut tersebut saling menindih dan berenang kesana kemari seperti tak terarah. Tapi saya salah besar. Ternyata segumpalan semut tersebut adalah sebuah formasi luar biasa kompak yang membentuk seperti kapal tim sar yang bersiap menolong sesamanya. Ya, Menolong semut lainnya!

Segumpal Semut
Segumpal Semut

Jika kulihat sekilas, terdapat tiga bagian yaitu bawah, tengah dan atas. Bagian bawah memiliki kuantitas semut yang paling banyak dan bertugas untuk melakukan pendayungan. Bagian tengah adalah pembentuk barikade dan penolong jika ada yang ditemukan. Dan bagian atas adalah dua semut yang seperti melakukan komando dan seperti radar mencari semut lainnya yang mengambang sendirian.

Tim Sar Semut sedang beraksi
Tim Sar Semut sedang beraksi

Saya pertama mengira hal tersebut seperti hal yang kebetulan dan tidak mempercayai hipotesa yang saya buat diatas. Tapi praktek membuktikan bahwa 3 – 4 kali memang segumpalan semut tersebut berenang menuju semut lainnya, bukan hanya terseret arus.

Setelah melakukan kesimpulan tersebut, saya tidak tega dan mengambil sebuah daun dan menyerok mereka ke daratan. Luar biasanya lagi, mereka tau cara mengantri. Mereka melompat ke daratan dimulai dari paling atas dan urut menuju yang paling bawah. Dan yang lebih mencengangkan lagi, dibagian paling bawah ada semut yang paling besar menjadi basis dari semua semut tersebut. Kalo tidak salah semut paling besar adalah raja atau ratu dari semut tersebut. Bayangkan, raja atau ratu semut rela diinjak injak dan yang paling pertama mati jika nanti tidak ada yang bisa menyelamatkan mereka.

IMG_20141205_162912

Nilai yang dapat dipetik dari kisah nyata tersebut adalah:

  • Semut mengajarkan kita tentang kekompakan.

  • Semut memang makhluk yang kecil dan mudah diinjak, tapi Tuhan menciptakannya tidak sendiri. Begitu pula kita, walau kita merasa kecil dan mudah diinjak, percayalah bahwa kita tidak sendiri.

  • Hujan itu anugrah Tuhan. Jika hari ini tidak ada hujan, tidak ada pelajaran kekompakan yang bisa kupelajari. Pelajaran ini mungkin tidak akan mengena jika hanya diceritakan di acara latihan kepemimpinan atau manajemen kekompakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s