Month: September 2014

Apa yang kamu lakukan?

Apa yang kamu lakukan?
Jika tidak keluar dari kotak penuh barang ini.

Kenapa kamu tidak melakukannya?
Melakukan hal hal yang produktif dan berguna

Kenapa kamu tidak keluar?
Mencari udara segar, terik hangat matahari dan inspirasi

Kenapa kamu masih diam menunggu waktu?
Padahal waktu telah jauh meninggalkan kita dan tidak akan menunggu

Apa yang sudah kamu dapat?
Tidak ada? Ada! Tapi kamu tidak tau apa itu.

Ternyata Pagi itu Indah….

Hari ini, tumben aku bangun sangat pagi –sekitar pukul 3 pagi. Aku bangun menatap kamar kos yang cukup berantakan dari buku diktat yang harus disalin, buku “bacaan sebelum tidur”, charger hp yang tergeletak, kertas HVS dimeja dan sebagainya. Seperti biasa aku teringat terdapat tugas untuk nanti siang dan beberapa untuk beberapa hari kedepan.

Setengah jam bergelut berusaha menyelesaikan tugas, burung burung mulai berkicau. Aku jadi merasa waktu berhenti dan hati terasa begitu damai. Ntah kenapa. Biasanya aku mendengar suara mereka berusaha bersaut sautan membangunkanku pada jam 6. Mungkin karena pagi hari ini aku bangun sendiri dan dapat menikmati suara mereka yang ternyata benar benar merdu –berbeda saat kamu kesiangan.

Kubuka gorden jendelaku, angin semilir dingin masuk menyegarkan tubuh tetapi masih gelap. Aku tersenyum sendiri, seakan membayangkan aku berdiri menatap langit yang biru, melihat sunset –Hal yang udah lama banget gak aku lakuin.

Kenapa tidak aku lakukan? Aku keluar kamar, berjalan menuju balkon lantai dua, menghirup dalam dalam udara ini. Masya Allah, sangat segar. Walaupun mungkin salah perkiraan, sunset masih cukup lama, tapi aku menyadari satu hal, Pagi itu sangat indah. Pagi merupakan anugrah Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan sebisa mungkin, aku tidak ingin kehilangan momen indah ini.

Bangun temanku, jangan terlelap terlalu dalam. Pagi Indah sambutlah.

Sedikit tentang Etika dan Magic Words

Pembiasaan dalam mengucapkan 4 kata ajaib (magic words) yaitu “terima kasih”, “maaf”, “permisi”, dan “tolong” harus lebih ditekankan. Pasalnya, walaupun ini pelajaran anak SD, tapi penerapannya orang tua pun terkadang menganggap remeh ucapan ini.

Padahal ini adalah pembelajaran etika sekaligus peningkatan tenggang rasa terhapad manusia disekitarnya. Jika ini diterapkan di keseharian kita + senyuman tanpa pudar di hari hari kita, niscaya hidup kita akan jauh lebih damai.

Dan tidak lupa juga untuk menjalankan ritual keseharian kita terhadap Sang Pencipta.